Penyelesaian Kasus Novel Baswedan Berjalan Lambat

Fadli Zon, Wakil Ketua DPR, menyindir dengan keras soal penanganan kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Pasalnya, kasus ini sudah berjalan hampir empat bulan dan belum juga menemui titik terang sedikitpun.

Fadli Merasa Kasus Novel Seakan ditutup-tutupi

Fadli sendiri membandingkan penyelesaian kasus Novel ini tidak secepat penanganan kasus dugaan maker kepada Presiden Jokowi oleh sejumlah aktivis dan juga ulama. “Saya pikir ini lebih lambat ya dibandingkan dengan kasus maker. Bahkan kasus yang lainnya dapat prioritas. Saya kira ini menjadi perhatian publik yang lumayan lama dan tentunya Novel memerlukan keadilan,” ungkap Fadli yang ditemui di gedung DPR, Jakarta, pada hari Senin ini (31/7).

Fadli sendiri meminta kepada Polri untuk segera menyelesaikan kasus Novel agar tidak timbul praduga dan juga pertanyaan dari masyarakat lebih jauh lagi. “Biasanya untuk kasus lainnya bisa berjalan cepat. Tapi dalam kasus ini berjalan lambat dan ada kesan seperti ditutupi atau kesannya agak tidak transparan,” tambahnya.

Meskipun demikian, Fadli menilai Polri belumlah perlu membentuk tim pencari fakta (TPF) yang dibentuk untuk kasus Novel. Pembentukan TPF, dinilainya, baru bisa dibentuk apabila ada konflik kepentingan atas penuntasan kasus itu. “Kalau memang terhambat karena ada 1 prosedur ataupun conflict of interest ya bisa saja dibentuk TPF,” ungkapnya lagi.

Sebelumnya dilaporkan siang ini, Tito Karnavian, Kapolri Jendral, menghadap Presiden di Istana Negara. Kehadirannya diduga kuat membahas perkembangan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Tito tiba di Kompleks Istana Kepresidenanan kira-kira pukul 14.16 WIB. Ia masuk melalui pintu Wisma Negara yang mana merupakan ‘jalur khusus’ tamu presiden.

Brigadier Jenderal Rikwanto, selaku Kepala Biro Peneragan Masyarakat Divisi Humas Polri, mengatakan bahwa pertemuan antara Kapolri Tito dengan Jokowi tak lebih hanyalah seperti pertemuan biasa. Namun masyarakat menduga kuat ada kaitannya dengan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Menurut Rikwanto, Jokowi berwenang untuk memanggil Tito kapan saja untuk meminta penjelasan dari berbagai isu.

Kasus Novel Jalan di Tempat

Lebih dari 100 hari kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan sudah berjalan, tapi sampai saat ini tidak ada tanda-tanda apapun bahwa Polisi sudah menemukan siapa yang bertanggung jawab atas penyiraman tersebut. Belum ada perkembangan yang berarti dari kasus ini dan belum ada informasi mengenai pelak. Jelas, masyarakat menilai kasus ini jalan di tempat.

Penyidik senior dari Komisi Pemberantasan Komisi (KPK) itu diserang sejumlah orang yang tidak dikenal sesudah Novel shalat subuh di Masjid Al Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta pada hari Selasa (11/4). Lambatnya penanganan kasus dewa poker ini sampai juga di telingan Presiden Jokowi dan ia akhirnya memutuskan untuk mendapatkan keterangan langsung dari Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. Jokowi secara singkat mengatakan, “Saya meminta masukan Kapolri dulu.”

Hari Minggu lalu, Jokowi mengatakan kepada pers, “Kemarin saya sudah menyampaikan ke Kapolri. Besok (hari ini) mau menghadap saya.” Sejumlah lembaga swadaya masyarakat memanglah mengusulkan mantan Gubernur DKI Jakarta dan juga Wali Kota Solo tersebut untuk turun tangan langsung dalam menyelesaikan kasus yang tengah merundung Novel Baswedan ini. desakan tersbeut muncul salah satunya dari Masyarakat Sipil Peduli Komisi Pemberantasan Korupsi yang saat ini mendesak Jokowi untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen guna mengungkap kasus ini.